Kategori: opini

  • Bahaya Judi Online: Mengungkap Dampak Negatif dan Solusi Islami

    Bahaya judi online. Selamat datang di seagreen-turtle-931955.hostingersite.com/, Di era digital ini, bahaya judi online semakin mengancam masyarakat, terutama generasi muda yang rentan terhadap godaan dunia maya. Melalui artikel-artikel kami, termasuk yang membahas tentang bahaya judi online, kami berkomitmen untuk memberikan pemahaman mendalam tentang dampak negatif judi online dan bagaimana Islam menentangnya. 
    Kami berharap, dengan pengetahuan yang kami bagikan, Anda dapat terhindar dari praktik yang merusak ini dan menjalani kehidupan yang lebih baik dan berkah. Teruslah bersama kami untuk mendapatkan wawasan yang berharga dan bermanfaat.

    Mengungkap Dampak Negatif dan Solusi Islami

    Bahaya judi online kini semakin meresahkan masyarakat, terutama dengan kemudahan akses melalui internet. Dari sudut pandang Islam, judi adalah aktivitas yang dilarang karena mendatangkan lebih banyak mudarat daripada manfaat. Artikel ini akan membahas bahaya judi online ditinjau dari kacamata Islam, menguraikan dampak negatif yang ditimbulkannya serta menawarkan solusi islami untuk mengatasinya.

    Pengertian Judi Online

    Judi online adalah segala bentuk taruhan atau permainan yang melibatkan uang atau benda berharga lainnya yang dilakukan melalui media internet. Bentuknya bisa bermacam-macam, mulai dari taruhan olahraga, poker, hingga lotre digital.

    Judi online dianggap lebih berbahaya karena jangkauannya jauh lebih luas dan bisa dilakukan secara sembunyi-sembunyi tanpa harus keluar rumah, bahkan kamar. dengan demikian, judi online sangat berbahaya bagi siapapun yang bisa mengakses internet.

    Bahaya Judi Online Menurut Pandangan Islam

    1. Mengandung Unsur Haram

    Islam dengan tegas melarang segala bentuk perjudian. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:

    Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-Ma’idah: 90).

    2. Menimbulkan Ketergantungan

    Seperti halnya narkoba, judi online dapat menyebabkan ketergantungan yang merusak. Ketergantungan ini membuat pelaku judi terus-menerus menghabiskan waktu dan uang, yang seharusnya dapat digunakan untuk hal-hal yang lebih produktif.

    3. Menghancurkan Ekonomi Keluarga

    Banyak kasus di mana pelaku judi online mengalami kebangkrutan karena terus-menerus kalah dalam taruhan. Akibatnya, perekonomian keluarga menjadi terganggu dan kebutuhan dasar pun tidak dapat terpenuhi.

    4. Merosotkan Moral dan Akhlak

    Judi online bukan hanya merusak dari segi finansial, tetapi juga moral dan akhlak. Pelaku judi cenderung mengabaikan nilai-nilai moral dan agama, bahkan melakukan hal-hal yang dilarang demi mendapatkan uang secara instan.

    5. Menimbulkan Konflik Sosial

    Ketergantungan pada judi online seringkali menyebabkan pelaku menjadi egois dan tidak peduli pada lingkungan sekitar. Hal ini dapat menimbulkan konflik sosial, baik dalam keluarga maupun di masyarakat.

    Dampak Negatif Judi Online

    1. Dampak Psikologis

    Stres dan Depresi: Kehilangan uang dan kekalahan terus-menerus dapat menyebabkan stres dan depresi.

    Kecemasan Berlebih: Pelaku judi seringkali merasa cemas akan hasil taruhan dan kondisi keuangan mereka.

    2. Dampak Sosial

    Pelemahan Hubungan Sosial: Pelaku judi seringkali mengabaikan hubungan sosial demi mengejar kemenangan.

    Konflik Keluarga: Ketidakstabilan finansial dan perubahan perilaku dapat memicu konflik dalam keluarga.

    3. Dampak Ekonomi

    Kebangkrutan: Pengeluaran yang terus-menerus untuk berjudi dapat menyebabkan kebangkrutan.

    Hutang: Banyak pelaku judi yang berhutang demi melanjutkan kebiasaan berjudi mereka.

    Solusi Islami Mengatasi Judi Online

    1. Memperkuat Iman dan Taqwa

    Meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT dapat menjadi benteng yang kuat untuk menghindari godaan judi online. Melakukan ibadah dengan khusyuk dan konsisten dapat membantu menenangkan jiwa dan menjauhkan diri dari perilaku negatif.

    2. Mengikuti Majelis Ta’lim

    Bergabung dengan majelis ta’lim atau komunitas islami dapat memberikan dukungan moral dan spiritual. Diskusi dan kajian tentang bahaya judi dan cara-cara islami mengatasinya dapat memberikan wawasan yang bermanfaat.

    3. Mengisi Waktu dengan Kegiatan Positif

    Mengisi waktu luang dengan kegiatan yang bermanfaat, seperti membaca, berolahraga, atau berdakwah, dapat mengalihkan perhatian dari keinginan untuk berjudi. Kegiatan positif ini juga dapat meningkatkan kualitas hidup dan hubungan sosial.

    4. Mencari Bantuan Profesional

    Jika ketergantungan pada judi online sudah parah, mencari bantuan dari profesional, seperti psikolog atau konselor, bisa menjadi solusi yang efektif. Bantuan profesional dapat memberikan terapi dan strategi untuk mengatasi kecanduan.

    5. Memperkuat Hubungan Keluarga

    Keluarga adalah dukungan terdekat yang dapat membantu seseorang keluar dari kebiasaan berjudi. Membuka komunikasi yang jujur dan mencari solusi bersama dapat memperkuat hubungan keluarga dan memberikan motivasi untuk berubah.

    Penutup

    Bahaya judi online tidak boleh diabaikan, terutama dari kacamata Islam yang menegaskan larangannya. Dengan memahami dampak negatif dan menerapkan solusi islami, diharapkan kita dapat menjauhkan diri dari bahaya judi online dan menjalani hidup yang lebih berkah dan sejahtera. Mari kita jaga diri dan keluarga kita dari jebakan judi online, serta selalu berpegang teguh pada ajaran Islam yang membawa kebaikan.


    Editor: Chotibul Umam

  • Pesan Moral Film “Ipar Adalah Maut” untuk Guru

    Pesan Moral dari Film “Ipar Adalah Maut“. Selamat datang di Taman Cendekia! Dalam artikel kali ini, kami akan membahas hikmah dan pesan moral yang dapat dipetik dari film terbaru Indonesia, “Ipar Adalah Maut”, yang ternyata sangat relate dengan sebuah hadits dari Nabi Muhammad SAW.

    Film ini tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga menyajikan pelajaran berharga tentang pentingnya menjaga batasan dalam interaksi sosial, kesetiaan dalam rumah tangga, dan bagaimana menghindari fitnah. Melalui perspektif agama Islam dan akhlak, kita akan mengulas nilai-nilai yang terkandung dalam film ini dan relevansinya bagi kehidupan modern. 

    Jangan lewatkan artikel menarik ini hanya di Taman Cendekia!

    Ingatlah, secanggih apapun kita menyembunyikan bibit-bibit keburukan (perselingkuhan), pada akhirnya akan muncul ke permukaan juga.”

    Pesan Moral Film “Ipar Adalah Maut” untuk Guru

    Film “Ipar Adalah Maut” tidak hanya memberikan hiburan tetapi juga menyajikan berbagai pelajaran berharga yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Sebagai guru memetik pelajaran dari film ini sangat penting agar dapat menjalani kehidupan rumah tangga dengan baik dan sesuai tuntuan syariat.

    Dalam perspektif agama Islam dan akhlak, terdapat beberapa pesan moral yang dapat diambil dari film ini yang bisa dijadikan panduan dalam kehidupan modern. Berikut ini, beberapa nilai atau pesan moral yang dapat kita ambil dari film “ipar adalah maut”

    1. Menjaga Batasan dalam Interaksi atas Nama Pekerjaan

    Dalam Islam, menjaga batasan (hijab) dalam interaksi antara pria dan wanita yang bukan mahram sangatlah penting. Hadits Nabi Muhammad SAW yang menyatakan “Ipar adalah maut” memberikan peringatan tegas tentang bahaya fitnah dan godaan yang dapat timbul dari kedekatan yang tidak pantas antara dua orang yang bukan mahrom. 

    Sebagai pendidik, penting untuk menjaga batasan-batasan interaksi dalam kehidupan sehari-hari untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, 

    termasuk interaksi atas nama pekerjaan. Seperti saat seorang guru laki-laki dan perempuan berbelanja ATK bersama, menghadiri panggilan dinas, semisal antara kepala sekolah laki-laki dan bendahara perempuan, dsb.

    Dari Film ini, sangat dianjurkan untuk sebisa mungkin menghindari beraktifitas berdua antara seorang guru laki-laki dan perempun. Termasuk menghindari situasi-situasi yang dapat menimbulkan fitnah dan selalu menjaga niat serta perilaku agar tetap sesuai dengan ajaran Islam.

    2. Menjaga Keharmonisan Rumah Tangga

    Film ini menggambarkan bagaimana perselingkuhan dapat merusak keharmonisan rumah tangga. Dalam Islam, kesetiaan dan amanah dalam pernikahan adalah nilai yang sangat dijunjung tinggi. 

    Seorang guru hendaknya memahami betul tentang pentingnya kesetiaan dan bagaimana menjaga kepercayaan dalam rumah tangga. Karena keharmonisan rumah tangga seorang guru akan disorot oleh masyarakat secara luas.

    Film ini juga mengajarkan pentingnya membangun kepercayaan dan komunikasi yang baik dalam keluarga. Seringkali, masalah dalam rumah tangga timbul karena kurangnya komunikasi dan kepercayaan antara suami dan istri. Guru hendaknya dapat membangun komunikasi yang efektif dan menjaga kepercayaan dalam keluarga, serta pentingnya transparansi dan saling mendukung dalam setiap keadaan.

    3. Menggunakan Kecanggihan teknologi dengan bijak

    Film “Ipar adalah Maut” memberikan pelajaran penting tentang penggunaan teknologi dengan bijak. Cerita ini menggambarkan dampak negatif dari penyalahgunaan teknologi yang dapat merusak hubungan personal dan memicu konflik. 

    Penggunaan teknologi harus disertai dengan kesadaran akan batas-batasnya untuk mencegah efek buruk seperti yang ditunjukkan dalam film ini. Terlebih, canggihnya gawai saat ini dilengkapi dengan fitur yang bisa menyembunyikan aplikasi tertentu agar tidak semua orang dapat mengaksesnya, termasuk istri. 

    Ingatlah, secanggih apapun kita menyembunyikan bibit-bibit keburukan (perselingkuhan), pada akhirnya akan muncul ke permukaan juga. Maka hindari itu sebelum terlambat.

    Penutup

    Sebagai guru yang hidup di zaman modern, penting untuk terus mengingatkan diri tentang nilai-nilai akhlak yang diajarkan dalam Islam. Film “Ipar Adalah Maut” memberikan banyak pelajaran berharga tentang menjaga kehormatan, kesetiaan, dan akhlak yang baik dalam kehidupan sehari-hari. 

    Dengan memahami nilai-nilai yang terdapat dalam film ini, kita dapat memberikan teladan dan membantu membentuk generasi yang memiliki karakter kuat dan mampu menghadapi berbagai tantangan dengan berpegang pada nilai-nilai Islam.

    Kita juga dapat mengajarkan tentang hadits “Ipar adalah maut” dan pesan moral yang terkandung dalam film ini kepada siswa dan mahasiswa agar mereka dapat memahami pentingnya menjaga batasan dan adab dalam setiap interaksi, sehingga tercipta masyarakat yang lebih harmonis dan penuh dengan nilai-nilai kebaikan.

    Kata Kunci: Hadits Ipar adalah Maut, Akhlak dalam Islam, Pesan Moral Film, Guru dan Dosen, Kehidupan Modern, Fitnah, Kesetiaan, Keharmonisan Rumah Tangga.

    Editor: Chotibul Umam

  • Pentingnya Pendidikan Akhlak di Era Digital: Menjaga Moralitas di Tengah Kemajuan Teknologi

    Pentingnya Pendidikan Akhlak di Era Digital: Menjaga Moralitas di Tengah Kemajuan Teknologi

    Oleh: Chotibul Umam

    Perkembangan teknologi informasi melaju begitu cepat. Ia hadir menyentuh seluruh sendi kehidupan, dan semua lapisan masyarakat, usia, budaya hingga pendidikan. Perkembangan ini digadang-gadang mampu meningkatkan kualitas kehidupan khususnya di dunia pendidikan. Namun keberadaannya telah merubah pola dan tatanan masyarakat, terhadap kearifan lokal, bahkan moral. 

    Selain itu, kemudahan dalam mencari informasi akibat perkembangan iptek ini, telah menggeser beberapa pelajaran dan materi belajar yang seharusnya diserap secara intensif oleh anak. Seperti pembelajaran akhlak dan moral, hingga pelajaran agama baik di sekolah maupun di rumah.

    Saat ini anak lebih senang belajar, dengan kelengkapan teknologi. Kondisi demikian, membuat sebagian kalangan mengkhawatirkan masa depan anak, jika para praktisi pendidikan tidak dapat memformulasikan dan merumuskan orientasi pendidikan, yang mampu menjadi jalan keluar secara tepat.

    Pentingnya Pendidikan Akhlak di Era Digital

    Pendidikan akhlak memegang peranan penting dalam membentuk karakter dan moral individu. Di era digital yang serba cepat ini, nilai-nilai moral dan etika sering kali terpinggirkan oleh kemajuan teknologi. Menurut Dr. Thomas Lickona, seorang ahli pendidikan karakter, pendidikan moral adalah fondasi utama dalam menciptakan individu yang bertanggung jawab dan bermartabat. Ia menekankan bahwa tanpa pendidikan moral yang kuat, perkembangan teknologi justru bisa menjadi bumerang yang merugikan.

    Di satu sisi, teknologi memberikan akses yang luar biasa terhadap informasi dan pengetahuan. Namun, tanpa bimbingan yang tepat, anak-anak bisa tersesat dalam arus informasi yang tak terkendali. Mereka bisa terpapar konten negatif seperti kekerasan, pornografi, dan berita palsu. Oleh karena itu, pendidikan akhlak menjadi semakin krusial untuk menanamkan nilai-nilai positif dan membentuk karakter yang kokoh dalam menghadapi berbagai tantangan digital.

    Tinjauan Ahli tentang Dampak Teknologi terhadap Moralitas

    Menurut Prof. Howard Gardner dari Harvard University, perkembangan teknologi telah mengubah cara anak-anak belajar dan berinteraksi. Gardner, yang dikenal dengan teori kecerdasan majemuknya, berpendapat bahwa teknologi harus digunakan sebagai alat bantu untuk memperkaya pengalaman belajar, bukan sebagai pengganti nilai-nilai moral dan etika. Ia menyarankan agar pendidikan harus tetap menekankan pentingnya interaksi sosial yang bermakna, empati, dan tanggung jawab sosial.

    Dr. Sugata Mitra, seorang pakar pendidikan teknologi, juga menyoroti pentingnya keseimbangan antara teknologi dan pendidikan moral. Dalam eksperimennya yang terkenal, “Hole in the Wall,” ia menunjukkan bahwa anak-anak dapat belajar secara mandiri melalui teknologi. Namun, Mitra juga mengingatkan bahwa tanpa panduan moral yang tepat, anak-anak bisa kehilangan arah dalam proses belajar mandiri tersebut.

    Strategi untuk Mengintegrasikan Pendidikan Akhlak dengan Teknologi

    Untuk menghadapi tantangan ini, para praktisi pendidikan perlu merumuskan strategi yang efektif dalam mengintegrasikan pendidikan akhlak dengan teknologi. Beberapa pendekatan yang dapat diambil antara lain:

    Pembelajaran Berbasis Nilai: Mengintegrasikan nilai-nilai moral dalam setiap mata pelajaran. Misalnya, dalam pelajaran sejarah, guru bisa mengajak siswa untuk merenungkan nilai-nilai kepahlawanan dan kejujuran dari tokoh-tokoh sejarah.

    Penggunaan Teknologi Secara Bijak: Mendidik anak-anak tentang penggunaan teknologi secara bertanggung jawab. Ini termasuk mengajarkan etika digital, keamanan online, dan cara menyaring informasi yang benar.

    Keterlibatan Orang Tua: Mengajak orang tua untuk aktif terlibat dalam proses pendidikan anak-anak mereka. Orang tua bisa menjadi model yang baik dalam penggunaan teknologi dan membantu menanamkan nilai-nilai moral di rumah.

    Kolaborasi dengan Komunitas: Membangun kemitraan dengan berbagai komunitas untuk menciptakan lingkungan belajar yang mendukung nilai-nilai moral. Misalnya, bekerja sama dengan lembaga keagamaan atau organisasi sosial untuk menyelenggarakan kegiatan yang memperkuat nilai-nilai akhlak.

    Kesimpulan

    Perkembangan teknologi informasi memang telah membawa banyak perubahan positif dalam dunia pendidikan, namun juga membawa tantangan tersendiri terhadap pendidikan akhlak dan moral. Untuk mengatasi hal ini, diperlukan upaya kolaboratif antara pendidik, orang tua, dan masyarakat dalam memformulasikan pendidikan yang mampu mengintegrasikan teknologi dengan nilai-nilai moral. 

    Pendidikan akhlak harus tetap menjadi prioritas untuk memastikan bahwa generasi mendatang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga bermoral dan berakhlak mulia. Sebagaimana yang dikatakan oleh Dr. Thomas Lickona, pendidikan moral adalah fondasi utama dalam menciptakan individu yang bertanggung jawab dan bermartabat. Tanpa pendidikan moral yang kuat, perkembangan teknologi justru bisa menjadi bumerang yang merugikan. Oleh karena itu, penting bagi kita semua untuk bekerja sama dalam menciptakan pendidikan yang holistik, yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa mengorbankan nilai-nilai moral dan akhlak.

  • Konflik dan Dampaknya

    Konflik dan Dampaknya

    Konflik pada dasarnya tidak disukai semua orang. Keberadaannya menjadi pengganggu mental dan kesehatan jiwa seseorang yang mengalami konflik. Adapun orang-orang yang terlihat suka menebar konflik, sejatinya ia sedang menghindar dari konflik, namun dengan cara yang salah sehingga menimbulkan konflik baru.

    Jauh sebelum konflik muncul dari diri seseorang, sebetulnya telah muncul terlebih dahulu konflik dari dalam diri, antara hati nurani dan akal. Ketika konflik antara hati dan akal tidak bisa diselesaikan oleh diri sendiri, ia akan keluar dan menjadi konflik nyata. Konflik ini menyeret dan mempengaruhi lingkungan dan orang-orang di sekitarnya, sehingga terbentuklah kelompok-kelompok yang berkonflik. Jika konflik berlanjut, akan berubah menjadi konflik masyarakat, bangsa hingga negara-negara di dunia. Seperti yang kita lihat saat ini, dunia sedang dilanda konflik berkepanjangan.

    Andaikan kita mengurainya satu persatu, mengadakan penelitian secara ilmiah, seminar, lalu semua orang yang berkepentingan melakukan hal yang sama, mencari sumber dan penyebab masalah, maka akan lahir teori-teori yang menjamur, yang akan bertentangan satu dengan yang lain, tergantung dari mana konflik itu dilihat dan siapa yang melihat. Dan sejauh ini, konflik yang terjadi belum menemukan solusi yang disepakati oleh pihak-pihak yang berkonflik.

    Semua terlihat rumit. Mimbar akademik yang melahirkan peneliti dan pengamat membawa dunia pada kebosanan dan kebuntuan berpikir karena tak kunjung membuahkan solusi bagi pihak yang berkonflik. Sementara korban terus berjatuhan.

    Rapuhnya Teori Ilmiah

    Rapuhnya teori ilmiah terhadap masalah sosial adalah bahwa selalu ada hasil penelitian yang berseberangan untuk memaksa teori lain tidak diakui oleh semua orang, terlebih bercampurnya pihak ketiga yang ingin mengadu domba turut bermain dan tidak menginginkan perdamaian tercapai. Maka sejauh ini, para pengamat hanya bisa melahirkan teori dan komentar terhadap konflik yang terjadi, dan tidak bisa berbuat banyak selain hanya mendorong kecaman demi kecaman.

    Secara teori, kecaman dan kutukan terhadap satu kejahatan dan konflik bisa mencegah dan meredakan konflik berikutnya. Bisa mendorong pihak-pihak yang berkonflik untuk mengendalikan diri serta mendorong pihak lain untuk ikut serta dalam mengambil sikap termasuk dalam meredakan konflik. Teori semacam ini sering kita jumpai saat ini.

    Konflik dalam Sejarah Manusia

    Menilik jauh ke belakang, saat manusia pertama diciptakan dan ia hidup dalam kedamaian di surga dengan semua fasilitas yang ada, pertanyaannya apakah lantas ia bahagia dengan semua itu. Karena tidak lama setelah ia diciptakan, ia meminta pasangan untuk menemani hidupnya yang sudah bergelimang dengan kemewahan.

    Kesepian sebagai representasi konflik dalam diri dimunculkan agar ada alasan untuk menciptakan pasangan sebagai pembuang kesepian. Hingga perang fisik pertama saat Qabil membunuh Habil menjadi bukti bahwa tidak ada kedamaian tanpa perpecahan.

    Peran Komunikasi dalam Konflik

    Komunikasi yang efektif merupakan kunci dalam menyelesaikan konflik. Ketika komunikasi terganggu atau tidak berjalan dengan baik, maka kemungkinan terjadinya konflik akan meningkat. Salah satu penyebab utama konflik adalah kurangnya komunikasi atau miskomunikasi. Untuk itu, penting bagi setiap individu maupun kelompok untuk memperhatikan cara mereka berkomunikasi.

    Komunikasi yang baik harus didasari oleh rasa saling menghormati dan pengertian. Setiap pihak harus mau mendengar dan memahami perspektif pihak lain. Dengan demikian, akan tercipta suasana yang kondusif untuk menyelesaikan perbedaan dan mencari solusi bersama. Selain itu, komunikasi yang jujur dan terbuka akan mencegah timbulnya prasangka dan kesalahpahaman yang sering kali menjadi pemicu konflik.

    Pentingnya Kesadaran Diri dan Emosi

    Selain komunikasi, kesadaran diri dan pengendalian emosi juga memainkan peran penting dalam mengatasi konflik. Ketika seseorang mampu mengenali dan memahami emosi yang dirasakannya, ia akan lebih mudah untuk mengendalikan reaksinya terhadap situasi yang memicu konflik. Hal ini akan membantu dalam meredakan ketegangan dan mencari solusi yang lebih konstruktif.

    Pengendalian emosi bukan berarti menekan atau mengabaikan emosi yang dirasakan, tetapi lebih pada bagaimana cara mengelola emosi tersebut agar tidak meledak dan memperburuk situasi. Misalnya, dengan mengambil waktu untuk menenangkan diri sebelum merespons suatu konflik, atau dengan menggunakan teknik-teknik relaksasi seperti pernapasan dalam atau meditasi.

    Penyelesaian Konflik yang Berkelanjutan

    Penyelesaian konflik yang berkelanjutan memerlukan pendekatan yang holistik dan inklusif. Artinya, semua pihak yang terlibat dalam konflik harus dilibatkan dalam proses penyelesaian. Ini termasuk mendengarkan keluhan dan aspirasi setiap pihak, serta mencari solusi yang dapat diterima oleh semua pihak.

    Selain itu, penyelesaian konflik yang berkelanjutan juga memerlukan komitmen jangka panjang. Tidak cukup hanya dengan mencapai kesepakatan sementara, tetapi perlu ada upaya terus-menerus untuk memelihara dan menjaga kesepakatan tersebut. Ini bisa dilakukan melalui dialog dan komunikasi yang berkelanjutan, serta dengan mengembangkan mekanisme penyelesaian konflik yang efektif.

    Kesimpulan

    Konflik merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia, mulai dari konflik internal dalam diri individu hingga konflik antarbangsa. Meski demikian, keberadaan konflik tidak selalu negatif. Dengan penanganan yang tepat, konflik dapat menjadi peluang untuk pertumbuhan dan perubahan positif.

    Pentingnya komunikasi yang efektif, kesadaran diri, dan pengendalian emosi dalam penyelesaian konflik tidak bisa diabaikan. Semua pihak yang terlibat harus memiliki kemauan untuk mendengarkan, memahami, dan bekerja sama mencari solusi yang menguntungkan semua pihak.

    Penyelesaian konflik yang berkelanjutan memerlukan pendekatan yang holistik, inklusif, dan komitmen jangka panjang. Dengan demikian, diharapkan tercipta kedamaian dan harmoni yang lebih baik di dalam masyarakat, bangsa, dan dunia.

    Oleh: Chotibul Umam

  • Pentingnya Pendidikan Akhlak di Era Digital

    Pentingnya Pendidikan Akhlak di Era Digital

    Oleh: Chotibul Umam

    Pendahuluan

    Di era digital yang semakin canggih ini, pendidikan akhlak memegang peranan penting dalam membentuk karakter generasi muda. Terlebih, tantangan yang dihadapi ummat manusia kedepan, akan erat kaitannya dengan aspek Attitude. Dimana kemajuan teknologi telah mengubah berbagai aspek kehidupan, termasuk cara kita berinteraksi dan memperoleh informasi. Kehadiran teknologi telah memudahkan manusia dalam mendapatkan apapun yang dibutuhkan. 

    Namun, di balik segala kemudahan yang ditawarkan, era digital juga membawa tantangan tersendiri dalam hal moral dan etika. Tidak sedikit orang yang terjebak pada pola pikir yang salah dalam menganggap kemajuan yang didapatkan, dengan tidak mengindahkan norma dan etika yang ada. 

    Oleh karena itu, penting untuk menanamkan pendidikan akhlak sejak dini agar anak-anak kita dapat menjadi individu yang berintegritas di tengah arus digitalisasi.

    Mengapa Pendidikan Akhlak Penting?

    Terdapat beberapa alasan yang mendasari mengapa pendidikan akhlak di era digital saat ini menjadi hal yang sangat penting. beberapa alasan tersebut diantaranya, pertama, pendidikan akhlak sebagai dasar pembentukan karakter dan keperibadian anak. Pendidikan akhlak berperan penting dalam membentuk karakter dan kepribadian anak-anak. Melalui pendidikan akhlak, nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, dan empati diajarkan dan ditanamkan sejak dini. 

    Kejujuran membantu anak-anak untuk selalu berkata dan bertindak benar, sementara tanggung jawab menumbuhkan sikap yang dapat dipercaya dan mampu menanggung konsekuensi dari setiap tindakan mereka. Empati mengajarkan mereka untuk memahami dan merasakan perasaan orang lain, sehingga dapat berinteraksi dengan penuh kepedulian dan hormat.

    Nilai-nilai ini tidak hanya penting untuk kehidupan pribadi, tetapi juga untuk menciptakan masyarakat yang harmonis dan saling menghargai. Oleh karena itu, pendidikan akhlak harus menjadi bagian integral dari kurikulum pendidikan di sekolah maupun di rumah, agar generasi mendatang tumbuh menjadi individu yang berakhlak mulia dan bermanfaat bagi masyarakat.

    Ke dua, di era digital, anak-anak terpapar berbagai informasi dan konten yang tidak selalu positif. Pendidikan akhlak membantu mereka memilah dan memilih informasi yang baik serta menghindari pengaruh negatif. Dengan nilai-nilai akhlak yang kuat, anak-anak dapat lebih bijak dalam menggunakan teknologi dan media sosial. Mereka akan belajar untuk kritis terhadap informasi yang diterima, menghindari hoaks, dan tidak terpengaruh oleh konten yang merusak. Pendidikan akhlak juga membekali mereka dengan kemampuan untuk menjaga privasi, menghormati orang lain di dunia maya, dan bertanggung jawab atas setiap jejak digital yang mereka tinggalkan.

    Ketiga, Media sosial sering kali menjadi tempat di mana norma dan etika mudah diabaikan. Dengan pendidikan akhlak, anak-anak diajarkan untuk tetap berperilaku sopan dan bertanggung jawab dalam setiap aktivitas online mereka. Mereka belajar pentingnya menjaga kesantunan dalam berkomunikasi, menghindari bullying dan perilaku negatif lainnya. Selain itu, pendidikan akhlak membantu mereka memahami dampak dari tindakan mereka di dunia maya, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Dengan demikian, anak-anak dapat menggunakan media sosial secara positif, membangun hubungan yang sehat, dan berkontribusi pada lingkungan digital yang lebih aman dan bermartabat.

    Implementasi Pendidikan Akhlak di Era Digital

    Pendidikan akhlak di era digital dapat dilakukan melalui beberapa langkah implementasi. Pertama, menerapkan pembelajaran berbasis teknologi. Teknologi dapat digunakan sebagai alat untuk mengajarkan pendidikan akhlak. Misalnya, melalui aplikasi pendidikan yang menyajikan cerita atau permainan yang mengandung pesan moral. Aplikasi ini dapat membuat pembelajaran lebih menarik dan interaktif bagi anak-anak. Selain itu, video animasi dan program edukatif online dapat menyampaikan nilai-nilai akhlak secara efektif. Teknologi juga memungkinkan akses ke berbagai sumber belajar yang memperkaya pemahaman mereka tentang etika dan moralitas. Dengan memanfaatkan teknologi, pendidikan akhlak dapat disampaikan dengan cara yang modern dan relevan, sesuai dengan kebutuhan dan gaya belajar generasi digital saat ini.

    Kedua, Integrasi pendidikan akhlak dalam kurikulum. Kurikulum sekolah harus memasukkan pendidikan akhlak sebagai bagian integral. Guru berperan penting dalam menanamkan nilai-nilai moral melalui berbagai aktivitas dan pelajaran sehari-hari. Melalui contoh nyata, diskusi, dan refleksi, siswa dapat memahami pentingnya kejujuran, tanggung jawab, dan empati. Guru juga dapat mengintegrasikan nilai-nilai moral dalam setiap mata pelajaran, menciptakan lingkungan belajar yang mendukung perkembangan karakter siswa. Dengan demikian, sekolah tidak hanya menghasilkan individu yang cerdas secara akademis, tetapi juga berakhlak mulia, siap berkontribusi positif dalam masyarakat.

    Ketiga, Orang tua harus terlibat aktif dalam pendidikan akhlak anak. Pengawasan dan bimbingan dalam penggunaan gadget dan media sosial sangat diperlukan untuk memastikan anak-anak terpapar konten yang bermanfaat. Selain itu, orang tua perlu memberikan contoh perilaku yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Komunikasi yang terbuka dan dialog tentang nilai-nilai moral dapat membantu anak memahami dan menerapkan akhlak yang baik. Melalui keterlibatan yang konsisten dan kolaborasi dengan sekolah, orang tua dapat memastikan perkembangan karakter anak yang seimbang dan positif.

    Kesimpulan

    Di era digital, pendidikan akhlak menjadi krusial dalam membentuk karakter generasi muda. Kemajuan teknologi memudahkan kehidupan, tetapi juga menimbulkan tantangan moral dan etika. Oleh karena itu, pendidikan akhlak harus ditanamkan sejak dini agar anak-anak menjadi individu berintegritas.

    Pendidikan akhlak penting karena: pertama, membentuk karakter dan kepribadian dengan nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, dan empati. Kedua, membantu anak memilah informasi positif dan menghindari pengaruh negatif. Ketiga, mengajarkan etika berperilaku sopan di media sosial.

    Implementasi pendidikan akhlak melibatkan penggunaan teknologi dalam pembelajaran, integrasi dalam kurikulum sekolah, dan keterlibatan aktif orang tua dalam pengawasan dan bimbingan. Dengan demikian, generasi mendatang akan tumbuh menjadi individu berakhlak mulia dan bermanfaat bagi masyarakat.

  • Guru yang Merdeka

    Guru yang merdeka. Sebuah slogan baru dalam dunia pendidikan yang dicetuskan oleh Menteri Pendidikan adalah “merdeka belajar.” Sebuah kalimat yang ingin melepaskan setiap insan pendidikan dari belenggu-belenggu yang mengekang proses pendidikan. Belenggu-belenggu yang membuat proses pendidikan tidak berjalan ke arah yang seharusnya dan menyisakan keluhan serta persoalan bagi orang-orang yang terlibat langsung di dunia pendidikan.

    Pendidikan yang seharusnya membebaskan murid dari tekanan dan beban berat yang tidak perlu justru berhadapan pada persoalan teknis yang seharusnya selesai di tingkat pengambil kebijakan. 

    Dengan kacamata yang berbeda, penyusunan perangkat belajar yang terlalu lengkap dan njlimet adalah salah satu contoh beban yang harus dipikul guru yang imbasnya dirasakan murid. Murid harus kehilangan perhatian penuh guru lantaran guru sibuk dengan urusan administrasi.

    Merdeka Belajar, Merdeka Mengajar

    Dalam kerangka merdeka belajar, seorang guru juga harus merdeka. Guru yang merdeka adalah guru yang bebas dari tekanan administratif yang berlebihan, sehingga dapat fokus pada esensi dari tugas mereka, yaitu mengajar dan mendidik. Seorang guru yang terbelenggu oleh tugas-tugas administratif tidak akan bisa memberikan perhatian penuh kepada siswa, yang pada akhirnya akan menghambat proses belajar mengajar.

    Merdeka belajar bukan hanya tentang memberikan kebebasan kepada siswa untuk belajar dengan cara yang paling sesuai bagi mereka, tetapi juga tentang memberikan kebebasan kepada guru untuk mengajar dengan cara yang paling efektif. Guru yang merdeka dapat menciptakan lingkungan belajar yang inovatif dan inspiratif, yang pada akhirnya akan mendorong siswa untuk belajar dengan lebih baik dan lebih efektif.

    Peran Pemerintah dalam Mewujudkan Guru yang Merdeka

    Peran pemerintah sangat penting dalam mewujudkan guru yang merdeka. Pemerintah harus menyederhanakan birokrasi dan tugas-tugas administratif yang harus dilakukan oleh guru. Selain itu, pemerintah juga harus menyediakan pelatihan dan pengembangan profesional yang berkelanjutan untuk para guru, sehingga mereka dapat terus meningkatkan kompetensi dan keterampilan mereka.

    Dengan memberikan dukungan yang memadai, baik dari segi kebijakan maupun fasilitas, pemerintah dapat membantu menciptakan lingkungan di mana guru dapat mengajar dengan lebih bebas dan efektif. Kebijakan merdeka belajar harus diikuti dengan kebijakan merdeka mengajar, di mana guru diberikan kebebasan untuk mengembangkan metode pengajaran yang paling sesuai dengan kebutuhan siswa mereka.

    Dampak Positif dari Guru yang Merdeka

    Guru yang merdeka akan dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih baik kepada siswa. Dengan berkurangnya beban administratif, guru dapat lebih fokus pada pengembangan materi pembelajaran yang kreatif dan inovatif. Hal ini akan membuat proses belajar mengajar menjadi lebih menarik dan menyenangkan bagi siswa.

    Selain itu, guru yang merdeka juga akan lebih mampu mengembangkan hubungan yang lebih baik dengan siswa. Dengan lebih banyak waktu dan energi yang dapat dihabiskan untuk memahami kebutuhan dan potensi masing-masing siswa, guru dapat membantu siswa untuk mencapai hasil belajar yang lebih baik.

    Kesimpulan

    Merdeka belajar dan merdeka mengajar adalah dua sisi dari koin yang sama. Untuk mewujudkan pendidikan yang benar-benar merdeka, perlu ada perubahan signifikan dalam cara kita memandang peran guru dan siswa dalam proses pendidikan. Guru yang merdeka adalah kunci untuk menciptakan lingkungan belajar yang bebas, kreatif, dan inspiratif. Dukungan dari pemerintah dan pemangku kebijakan sangat diperlukan untuk mewujudkan visi ini. Dengan memberikan kebebasan kepada guru, kita tidak hanya membebaskan mereka dari beban administratif yang berlebihan, tetapi juga membuka jalan bagi terciptanya pendidikan yang lebih baik dan lebih bermakna bagi seluruh peserta didik.


    Editor: Chotibul Umam

  • Guru Abad 21: Menghadapi Tantangan dengan Kesederhanaan dan Optimisme

    Guru Abad 21: Menghadapi Tantangan dengan Kesederhanaan dan Optimisme

    Oleh: Chotibul Umam

    Hidup ini sudah sulit, maka jangan dibuat sulit. 

    Kalimat sederhana ini sering kita dengar, tetapi memiliki makna yang dalam. Kalimat ini sering kali hanya lewat di telinga lalu pergi tanpa kita cernanya lebih dalam.

    Mungkin karena kesederhanaannya, kita sering melupakannya dan tetap terbawa oleh persepsi rumit dan ribetnya kehidupan. Hal ini juga dialami oleh guru abad 21. Tuntutan untuk mencerdaskan generasi bangsa dengan nilai-nilai karakter begitu tinggi, di tengah lemahnya pembelajaran moral yang melanda generasi muda. Guru sering dipersalahkan dan terjerat kasus hukum ketika memberi tindakan disiplin kepada peserta didiknya.

    Di tengah tugas yang berat itu, guru abad 21 masih harus berjibaku melengkapi berbagai macam perangkat pembelajaran. Selain itu, guru dituntut untuk meningkatkan kedisiplinan, dan menaati batas waktu jam kerja dan jam belajar.

    Dengan kondisi dan tuntutan yang demikian berat, guru abad 21 sering mengeluh. Tidak sedikit yang memilih sikap putus asa, acuh, dan melahirkan prinsip bekerja sekadarnya saja. Ketercapaian tujuan dan cita-cita pendidikan nasional yang mulia, tidak menjadi motivasi kerjanya melainkan hanya menjadi hiasan dalam dokumen-dokumen pembelajaran yang ditumpuk di meja kerja.

    Kalau kita mencerna lebih dalam, sebenarnya pesan yang disampaikan kalimat tersebut di atas tidak sesederhana dalam pengucapannya. Kalimat itu mengandung pesan agar kita berpikir sederhana dan menyederhanakan pikiran.

    Artinya, pertama hendaknya kita memandang bahwa pekerjaan yang kita terima adalah kewajiban yang memang harus kita lakukan, agar kita mendapat hak kita. 

    Tanpa menjalankan kewajiban, seharusnya kita malu menerima hak. 

    Jika kerja kita tidak maksimal, seharusnya hak yang kita terima juga berkurang. Jikalaupun kita bekerja asal-asalan, semaunya dan yang penting menjalankan kewajiban, sementara kita menerima hak kita secara penuh, dikhawatirkan keberkahan rezeki yang kita terima akan hilang.

    Kedua, hendaknya kita memiliki keyakinan bahwa seberat apapun tugas yang kita terima, kita pasti bisa melakukannya. 

    Kita harus percaya bahwa tugas-tugas yang diberikan pada kita telah diukur dan dikaji secara mendalam dengan standar tertentu oleh pemberi tugas, yakni pemerintah, bahwa kita bisa melakukannya. 

    Dan tentu, semua itu sebanding dengan imbalan yang diberikan pemerintah pada kita. Dalam bahasa agama, Sesungguhnya Allah tidak akan menguji seseorang di luar batas kemampuannya.

    Dengan dilandasi kesederhanaan berpikir demikian, akan tumbuh sikap optimisme dalam diri. Bahwa kewajiban yang harus kita jalankan, pasti sepadan dengan hak yang kita terima. Sesulit apapun tugas, serumit apapun tuntutan kerja dan seberat apapun beban yang kita terima, kita pasti bisa melakukannya.

    Bukankah seorang guru abad 21 adalah manusia-manusia pilihan? Jabatan profesi yang tidak semua orang bisa melakukannya. Maka guru adalah seorang yang hebat, kuat, dan bisa hidup di segala situasi dan kondisi. Kehidupannya memiliki talenta untuk selalu berinovasi terhadap tugas yang diembannya.

    Ketika seseorang memilih dan terpilih untuk menjadi guru, sesungguhnya ia memiliki potensi untuk bisa menjalankan apapun tugas yang diberikan kepadanya.

    Apabila kita menyadari lebih jauh, tugas menjadi guru bukan hanya sebatas menjalankan kewajiban untuk menerima hak, kita kerja lalu kita dibayar. Jauh dari itu, menjadi guru abad 21 adalah tugas mulia yang memiliki kebermanfaatan bagi orang lain bahkan bagi dirinya sendiri.

    Secara alamiah, akan memancar dari diri seorang guru abad 21 jiwa kewibawaan dan ketenangan. Guru selalu bisa waspada dan bijaksana dalam menghadapi segala persoalan yang ada. Di mata masyarakat, guru adalah orang tua yang menjadi teladan, guru adalah yang digugu dan ditiru.

    Semua itu, dapat diraih apabila seorang guru abad 21 mau menerima dirinya sendiri dengan segala konsekuensi dan kewajiban yang diembannya dengan keikhlasan dan ketulusan. Ia menjalankan tugasnya dengan penuh suka cita. Apabila tugas itu dirasa berat, ia akan berusaha meraihnya dengan segenap daya yang dimilikinya. Ia tidak mengeluh. Jika ia tidak sanggup, ia akan berinovasi mencari jalan alternatif untuk mencapai tujuan dari tugas yang dibebankan padanya.

    Tanggamus, 15 Mei 2021

    Sumber Ilustrasi: https://www.pikist.com/free-photo-ixroe/id

  • Menghadapi Kritikan di Era Keterbukaan

    kritik

    Menghadapi Kritikan di Era Keterbukaan

    Oleh: Chotibul Umam

    Menghadapi Kritik – Pesatnya perkembangan teknologi informasi membuka ruang diskusi tanpa batas. Setiap orang dibelahan dunia manapun bisa dengan mudah mengomentari dan ikut campur terhadap persolan pribadi maupun persoalan publik yang muncul. Setiap orang bebas mengutarakan pendapat, opini, pandangan, bahkan kritik dan hinaan sesuka hati kepada siapa saja yang ia jumpai di media sosial, entah kenal atau tidak. Hanya saja undang-undang ITE yang berlaku di Indonesia menjadi rool way dan batasan dalam beropini dan berpendapat. Siapa yang melanggar uu ini bisa dijerat hukum sesuai pasal yang disangkakan.

    Selain uu ITE terdapat juga kontroversi mengenai RKUHP yang salah satu pasalnya mengatur tentang penghinaan terhadap presiden. Yakni pasal tentang pemidanaan bagi penghina presiden dan wakil priseden yang tertuang dalam pasal 218 ayat satu. Dalam pasal itu disebutkan setiap orang yang dimuka umum menyerang kehormatan atau harkat dan martabat diri presiden atau wakil presiden dipidana paling lama 3 (tiga) tahun 6 (enam) bulan atau pidana denda paling banyak kategori IV.

    Menyikapi Era Keterbukaan

    Berbicara mengenai kritik maka layaknya pisau bermata dua. Di satu sisi, ia merupkan pembangun bagi suatu kebijakan yang menyangkut hajat orang banyak. Di sisi lain, ia dianggap sebagai penghinaan, pencemaran nama baik, dan fitnah atau hoaks apabila kritik disampaikan tidak berdasarkan data, tidak mengindahkan norma dan etika berkritik saran yang berlaku. Sementara dunia saat ini telah berada dalam era keterbukaan tanpa batas, walaupun kemudian atas nama moral diberlakukan pemaksaan terhadap orang-orang agar taat batasan yang diundangkan, dimana salah satunya adalah pasal penghinaan terhadap presiden di atas. Lalu bagaimana sebaiknya menyikapi era keterbukaan ini?

    Ada pendapat yang menarik yang disampaikan oleh Irmanputra Siddin dalam acara tolkshow di salah satu televsi swasta yang membahas masalah kontroversi RKUHP. Salah satu pasal yang menjadi perdebatan adalah mengenai pasal penghinaan presiden. Sebagai bahan pengetahuan, bahwa pasal penghinaan presiden telah dihapus oleh MK. Sementara dalam RKUHP bukan lagi pasal penghinaan namun diganti dengan pasal penyerangan terhadap martabat presiden. Hal ini tetap menimbulkan perdebatan karena pada prinsipnya pasal ini hampir sama dengan pasal penghinaan presiden dan bisa disalah gunakan oleh penguasa untuk membungkam orang-orang diluar pemerintahan atau lawan politiknya.

    Dalam pendapatnya, Irmanputra Siddin mengatakan bahwa sebaiknya pasal ini ditarik atau dikeluarkan dari RKUHP. Karena menurutnya tidak hancur republik ini, tidak hancur negara ini, tidak runtuh kekuasaan ini ketika pasal tentang penyerangan terhadap harkat dan martabat presiden ini dikeluarkan.

    Pendapat demikian sebenarnya telah diaminkan oleh presiden yang mengatakan bahwa beliau sudah biasa diserang dan presiden setuju jika pasal ini dihilangkan.

    Sementara Menteri Hukum dan Ham berpendapat bahwa akan menjadi bangsa yang tidak beradab apabila membiarkan harkat dan martabat presiden dan wakil presiden diserang. Ia menambahkan kebebasan yang sebebas-bebasnya bukanlah kebebasan tetapi anarki. Artinya mengkritik terhadap jabatan publik yang diemban seseorang, dalam hal ini presiden atau wakil presiden adalah hal yang dilindungi UU dan itu dibenarkan. Tetapi menyerang terhadap personal, terhadap harkat dan martabat presiden secara personal seperti mengatakan bahwa presiden adalah anak haram adalah perkataan yang tidak beradab. Inilah yang tidak dibenarkan berdasarkan RKUHP.

    Akan tetapi sekali lagi, di era keterbukaan ini semua bisa terjadi dan muncul ke permukaan tanpa batas dan tanpa bisa di filter. Fitnah, hoaks, hinaan, cercaan kasar dsb bisa dengan mudah dijumpai di tengah-tengah masyarakat kita. Oleh karenanya, tujuan Negara Indonesia mencerdaskan kehidupan bangsa, yakni bangsa yang beriman, bertaqwa, dan berakhlak mulia menjadi titik tolak dalam menghadapi era keterbukaan ini. Irmanputra Siddin melanjutkan tujuan Negara ini hendaknya menjadi prioritas agar Negara tidak terlalu sibuk mengatur tatanan social. Jika kehidupan bangsa telah cerdas maka kasus-kasus yang muncul di era keterbukaan ini, seperti fitnah, hoaks dan ujaran kebencian tidak akan banyak dijumpai.

    Kenyataannya gempuran teknologi melaju lebih cepat dibanding proses pencerdasan bangsa terutama dalam menghadapi era keterbukaan ini. Akibatnya masyarakat kita terlihat gagap dan gamang serta mudah terprovokasi oleh informasi-informasi yang beredar. Banyak yang kemudian terjebak dan menjadi korban kemajuan iptek hingga menjadi tersangka pelanggaran UU ITE.

    Dalam menghadapi era keterbukaan yang terlanjur mengepung semua lini kehidupan, setidaknya diperlukan sikap untuk menghadapi kritik dengan bijak, yaitu dengan menerima dan membiasakan diri terhadap kritik itu sendiri. Ketika seseorang berani untuk tampil di depan umum, terlebih bagi para pejabat publik hendaknya mempersiapkan sikap mental untuk menerima kritik dalam bentuk apapun. Karena memang menerima kritik itu tidak mudah, apalagi kritik yang disampaikan di hadapan publik. Sikap ini diperlukan agar seseorang tidak terbawa emosi yang mengakibatkan mental dalam dirinya goyah, sehingga berpengaruh terhadap kebijakan yang diambil apabila ia seorang pejabat publik.

    Inilah setidaknya yang telah dicontohkan oleh presiden Jokowi yang mengatakan bahwa beliau telah terbiasa dikritik dan tidak masalah jika pasal penyerangan terhadap harkat dan martabat presiden dalam RKUHP dihilangkan. Kesiapan presiden dalam menerima kritik ditunjukan pula dengan keteguhannya dalam mempertahankan satu kebijakan walau banyak dikritik sana-sini.

    Berani Mengkritik, juga harus siap dikritik

    Sikap menerima dan membiasakan diri terhadap kritik ini tidak hanya diperlukan oleh para tokoh publik yang berpeluang mendapat kritik, tetapi juga oleh orang-orang yang suka mengkritik. Ia harus siap apabila kritiknya tidak didengarkan dan bahkan balik dikritik. 

    Titik balik dari proses hukum apabila seseorang terbukti melanggar UU ITE yang ada saat ini adalah saat si pelaku telah meminta maaf dan bernjanji untuk tidak mengulanginya lagi serta orang yang menjadi korban telah memaafkannya. Jika keadaan ini tercapai seyogyanya proses hukum tidak perlu dilanjutkan. Andai katapun tetap berjalan harus dipastikan bahwa semata-mata untuk proses pembelajaran bersama, yakni sebagai salah satu upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

    Pada akhirnya apabila masyarakat terbiasa dengan kritik, mau menerima serta membiasakan diri dengan berbagai kritik yang datang, akan tercipta proses demokrasi dengan baik dan santun, sehingga melahirkan kebijakan-kebijakan bersama untuk kemajuan bangsa dan Negara.

    Hal yang tidak boleh dilupakan sebagai bangsa yang besar dan beradab adalah etika dalam berkritik saran. Norma kepantasan dan kepatutan dalam memilih kata dan cara dalam menyampaikan kritik perlu diperhatikan karena ada hak orang lain dibalik hak kebabasan yang kita miliki. 

    Sumber Ilustrasi: https://pixabay.com/id/vectors/amplifikasi-demo-demonstrasi-keras-1294300/
  • Pendidikan Inklusif di Indonesia

    pendidikan inklusif

    Pendidkan Inklusif di Indonesia

    Pendidikan inklusif. – Di Indonesia, beberapa tahun terakhir ini sedang gencar dikenalkan dan diterapkan pendidikan inklusf di sekolah-sekolah umum. Banyak praktisi pendidikan baik dari ahli pendidikan inklusif sendiri maupun pakar pendidikan lain pada umumnya, memberikan materi tentang pendidikan inklusif.

    Pemerintah dan para ahli pendidikan bersepakat bahwa pendidikan inklusif penting untuk diterapkan agar tidak terjadi dikotomi dan pemisahan antara siswa difabel dan siswa pada umumnya. Hal ini penting dilakuan untuk memenuhi setiap hak anak untuk memperoleh pendidikan yang sama.


    style=”display:block; text-align:center;”
    data-ad-layout=”in-article”
    data-ad-format=”fluid”
    data-ad-client=”ca-pub-1149706441758329″
    data-ad-slot=”2950194178″>

    Pengertian pendidikan inklusif

    Dilansir dari laman wikipedia.org pendidikan inklusif adalah sistem layanan pendidikan yang mengatur agar siswa dapat dilayani di sekolah terdekat, dikelas reguler bersama-sama teman seusianya. Tanpa harus dikhususkan kelasnya, siswa dapat belajar bersama dengan aksesibilitas yang mendukung untuk semua siswa tanpa terkecuali difabel. 

    Tujuan pendidikan inklusif

    Dengan demikian, pendidikan inklusif diperuntukan bagi anak berkebutuhan khusus agar dapat disekolahkan di sekolah reguler. Tujuannya adalah untuk menyatukan atau menggabungkan antara penidikan reguler dengan pendidikan khusus kedalam satu lembaga pendidikan dalam satu kesatuan untuk menyatukan semua kebutuhan siswa.

    Pendidkan inklusif bukan hanya berupa metode dan pendekatan saja, tetapi sebagai bentuk pengakuan terhadap kebhinekaan untuk membangun kehidupan bersama-sama dan berdampingan satu sama lain yang lebih baik. Dengan demikian, pendidikan inklusif berusaha untuk memenuhi hak setiap orang untuk memperoleh pendidikan tanpa terkecuali.

    Dasar pendidikan inklusif.

    kemudian, apa dasar penyeenggaraan pendidikan inklusif?

    Di dalam UUDasar 1945 Pasal 32 ayat (1) menegaskan bahwa “setiap warga  berhak mendapatkan pendidikan”. Sementara pada ayat (2) menegaskan “setiap anak wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya”. 

    Ditegaskan kembali dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 5 ayat (1) bahwa “setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu”. 

    Undang-undang inilah yang menjadi dasar dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif. 


    style=”display:block; text-align:center;”
    data-ad-layout=”in-article”
    data-ad-format=”fluid”
    data-ad-client=”ca-pub-1149706441758329″
    data-ad-slot=”2950194178″>

    Mengapa perlu pendidikan inklusif

    Difabel atau kelainan pada anak, adalah satu bentuk anugerah yang tidak bisa dihindarkan dan merupakan satu ketetapan dari tuhan. Keberadaannya sama halnya dengan adanya perbedaan suku, ras, budaya, dan agama. 

    Di dalam diri anak difabel, pasti terdapat kelebihan yang bisa dikembangkan. Sebaliknya, di dalam diri anak-anak yang normal secara fisik, pasti terdepat kekurangan. Berangkat dari hal inilah pendidikan inklusif dihadirkan agar terjadi pergaulan dan interaksi angar siswa yang beragam.

    Dengan terjadinya pergaulan ini, diharapkan akan terjadi sikap saling menghormati, toleransi dan saling menghargai. 

    Selain itu, pendidikan inklusif diharapkan mampu menggali dan mengembangkan setiap bakat dan kelebihan yang terdapat pada anak. sehingga anak akan mampu menemukan jatidirinya sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.

    Demikianlah penjelasan singkat mengenai pendidikan inklusif. Tentu penjelasan diatas bellum cukup untuk dapat mengupas tuntas mengenai pendidikan inklusif. terdapat banyak kajian dan sumber yang menjelaskan tentang pendidikan inklusif.

    https://id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan_inklusif

    PENDIDIKAN INKLUSI

    Sumber ilustrasi: https://www.flickr.com/photos/usaid-indonesia/9446123005
  • Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara

     

    Ki Hajar Dewantara

    Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara

    ragamkatakita.com – Hallo sahabat rakata, Sebelum membicarakan mengenai Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara, tentunya kita harus tahu dan kenal terlebih dahulu siapa ki Hajar Dewantara. akan sangat lucu kan, mempelajari filosofi pendidikan beliau, tetapi tidak tahu siapa beliau,

    Oleh karena itu, saya akan sedikit mencoba menerangkan tentang profil singkat beliau,

    Profil Ki Hajar Dewantara

    di kutip dari wikipedia.org Ki Hajar Dewantara  lahir di Pakualaman, 2 Mei 1889  dan meninggal di Yogyakarta, 26 April 1959 pada umur 69 tahun.

    Tokoh pendidikan nasional dengan nama Asli Raden Mas Suwardi Suryaningrat ini merupakan Pendiri Perguruan Taman Siswa.

    Semboyan beliau di dalam dunia pendidikan yang sering kita kenal yaitu Tut Wuri Handayani. Beliau di tetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden RI Pertama, Sukarno. Tepatnya pada tahun 1959.

    Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara

    Berbicara mengenai filosofi pendidikan, berarti harus mengerti apa itu mendidik. Tanpa mengetahui arti mendidik yang sesungguhnya, pendidikan tidak akan menemukan filosofi pendidikan itu sendiri.

    Oleh karenanya, Ki Hajar Dewantara menekankan pentingnya para pendidik untuk menyamakan persepsi tentang arti mendidik. Menurut beliau, mendidik adalah proses memanusiakan manusia atau humanisasi (mengangkat manusia ke taraf insani)

    Lebih lanjut, ki hajar dewantara mengemukakan bahwa tujuan pendidikan adalah penguasaan diri. Oleh karenanya, langkah untuk mencapai pendidikan yang humanis (memanusiakan manusia) harus melalui langkah penguasaan diri.

    Dengan penguasaan diri ini, setiap manusia akan mampu mengendalikan dan menentukan sikapnya sendiri dan bertanggung jawab atasnya. dalam konteks kebangsaan, pendidikan merupakan usaha bangsa Indonesia untuk keluar dari kebodohan.

    https://www.kotaklaten.com/pendidikan-karakter-menurut-ki-hajar-dewantara/