Kategori: puisi

  • Puisi Cinta: Aku Tak Sanggup Melepaskanmu

    puisi cinta

    Aku Tak Sanggup Melepaskanmu

    Karya: Mai Hamdati

    Jika benar sebuah kepergian adalah jalan menuju kenangan
    dari setiap yang ditinggalkan
    Maka kepergianku menemukan jalan buntu
    Karena telah tumbuh ilalang
    Entah sejak kapan 
    Sehingga tak dapat lagi kulihat apapun di depanku
    Selain tatapan matamu, yang bersembunyi di situ
    Sedang menikmati warna senja di pipiku
    Dan masa lalu yang memerah di mataku
    Dan sekarang sendirilah aku di jalan buntu
    Di antara deretan tanda koma dalam puisimu
    Yang tak bisa kuselesaikan
    Sampai pada sebuah titik,
    Apa lagi catatan kaki
    Yang menerangkan
    Mau kemana senja membawa kisah kita
    Mungkin aku tak pantas mengambil rindu di saku bajumu
    Tapi sungguh, Aku pun tak sanggup melepaskanmu
    Pergi ke masa lalu.

    Tanggamus, 2009

    Sumber Ilustrasi: https://www.flickr.com/photos/ariken/7001996122
  • Puisi: Hingga Satu Yang Ke Sepuluh

    puisi

    Hingga Satu yang Ke Sepuluh

    Telah jatuh
    Bola-bola air di wajahmu
    Satu demi Satu
    Satu hingga satu yang lain
    Hingga satu yang kesepuluh
    Ya, hingga satu yang kesepuluh

    Kegelisahan lain tumbuh
    Untuk satu demi Satu
    Di wajahmu
    Di musim kemarau yang terlambat datang
    Dan sepertinya  juga akan terlambat pulang

    Kau berharap air matamu akan jatuh lebih,
    Lebih dari satu hingga kesepuluh
    Kau tengok perigi di halaman belakang matamu
    Tinggal lengkung dasar yang samar
    Pandangmu jauh ke depan
    Tidak juga menemukan titik terang
    Bagaimana menghapus retakan tanah
    Yang semakin bercabang
    Di dalam kotak persegi panjang ini

    Bagaimana menjelaskan pada 
    Tumbuhan padi yang tiba-tiba menua
    Sebelum sempat menjadi ibu bagi biji-biji yang montok
    Di saat-saat terakhir,
    Telah jatuh
    Satu demi Satu
    Satu hingga satu yang lain
    Hingga satu yang kesepuluh 
    Ya, hingga satu yang kesepuluh.

    Sanggar saktah, 30 Juni 2011




    Sumber Ilustrasi: https://pxhere.com/id/photo/425267

  • Puisi: Belum Menyerah

    Karya: Mai Hamdati

    Aku belum menyerah, Tuhan

    Hanya ingin lebih percaya pada  takdir 

    Membiarkannya terbang bebas 

    Dengan sayap yang tak terlihat 

    menjauh dari pikiranku

    dan lebih dekat denganmu

    sedang aku akan terus mencangkul di sini

    Di Tanah kata-kata yang basah

    di hamparan puisi yang belum siap ditanami

    tapi begitulah aku menggenggam angin

    memeluk hujan dan mencium kening matahari setiap pagi

    Aku belum menyerah, Tuhan

    Hanya ingin diam lebih lama di tepi pantai

    melihat rintih pasir sebelum tergerus ombak

    mencari setiap kata dalam tubuh kerang

    menjadikannya kalung puisi  

    sambil menunggu senja benar-benar gelap

    di atas laut yang berubah pekat

    September, 2011




    Sumber Ilustrasi: https://pxhere.com/id/photo/1634408

  • Puisi: Mimpi Sebatang Bambu 2

    puisi

    Mimpi Sebatang Bambu

    Bulan yang temaram
    Mampukah aku memelukmu
    Sebatang bambu hitam, kelam,
    Hampir tak kelihatan,
    Memandang jauh ke angkasa
    Ia masih saja bertanya
    Masih saja curiga
    Apakah jalan ke tempatmu terjal
    Lurus dan halus tapi semakin mengecil di kejauhan
    Akankah berundak hingga sampai ke puncak
    Ataukah luas dan bergelombang seperti samudra

    Sebatang bambu semakin diam
    Sedikit bergoyang diantara angin yang lalu lalang
    Pelan, tapi jelas sekali membayang
    Bulan, kita begitu dekat
    Lebih dari berhadapan
    Lebih dari bersentuhan
    Kau menggodaku
    Aku memasukimu

    Tiba-tiba aku terbangun
    Inilah mimpi yang sesungguhnya
    Mimpi sebatang bambu
    Sebelum aku menggerakkan penaku.

    Sanggar Saktah, 03 Juli 2011




    Sumber Ilustrasi: https://www.pikist.com/free-photo-sxolh/id

  • Puisi Cinta: Kenangan Yang Kutitipkan Padamu

    PUISI CINTA

    Kenangan yang Kutitipkan Padamu

    Karya: Mai Hamdati

    Tak ada senja dan  bulan
    bahkan kelebat cahaya
    saat keretaku perlahan menjauh dari stasiun
    di sebelah tugu kotamu itu

    Jika jalan pulang ini menuju kenangan
    kenapa aku masih saja kehilangan?
    Ataukah kepulangan ini adalah kehilangan yang lain
    Yang menghidupkan kenanganku padamu

    Telah kutitipkan surat pada angin
    Sehingga dapat kau cumbui diriku
    Dalam setiap tarikan udara yang kau hirup
    Di antara bau pengap abu rokokmu
    Maka kau akan tahu
    Betapa cemas aku menantimu
    Di sini, di kotaku
    Untuk mengambil sisa kenanganku
    yang kutitipkan padamu….

    Tanggamus, 2009

    Sumber Ilustrasi:https://www.flickr.com/photos/stwn/14298617557

  • Tukang Kebun

    puisi

    Tukang Kebun

    Untuk Sodik

    Pernahkah kita sekali saja mendengar tangisan daun-daun
    Dari dalam rumah kecil mereka
    Rumah tanpa pintu dan jendela
    Yang dapat menjadi istana
    Sekaligus penjara

    Mungkin kita harus belajar jadi tukang kebun
    Yang paham isyarat daun-daun
    Jangan-jangan kita hanya sibuk membeli pot
    Dan guci paling mahal untuk mengurung mimpi mereka

    Atau sesungguhnya kita adalah tukang kebun
    Yang rabun
    Pada warna daun-daun

    Sanggar Saktah, 04 Juli 2011

    Sumber Ilustrasi: https://www.hippopx.com/id/dream-natural-neck-446793

  • Puisi: Arung Jeram

    Karya: Mai Hamdati

    Waktu memang terlihat selambat batu-batu 

    Kerikil yang bergeser di lubang-lubang sungai,

    Tapi tanpa sadar 

    Telah kau arungi arus yang tenang setiap Subuh

    Sedikit bergelombang  saat tubuhmu  setegak bayangan

    Berpeluh keringat di sebuah turunan tajam

    Pada ba’da  ‘Asar

    Mengagumi romantisme  terowongan langit sebelum Maghrib

    Dan di jeram terakhir

    Ba’da ‘Isya yang amat panjang dalam Shalatmu

    Menangislah diam-diam 

    Seolah sedang belajar kehilangan

    Supaya saat kau tenggelam, air sungai akan terasa hangat 

    Meski setiap hati bermimpi akan sampai ke sebuah tepi

    “ya,  pantas saja 

    kampung itu namanya surga

    rumah Tuhan ada di sana.”

     

    September, 2011





    Sumber Ilustrasi: 

    https://www.pikist.com/free-photo-ssvvu/id

    https://www.pexels.com/id-id/foto/arung-jeram-chattanooga-dengung-tennessee-2257126/

  • Puisi: Sebuah Jawaban

    Sebuah Jawaban

    Karya: Mai Hamdati

    Telah kau baca semua buku

    Menemukan seluruh jendela

    Sempat tercengang sebentar sebelum menghafal 

    Setiap nama yang akan begitu mudah kau lupa

    Kau telah pulang 

    Sampai pada awal sebuah tangisan

    Sebenarnya kau hanya ingin diam

    Tetapi banyak yang menunggumu di halaman

    Menunggu ceritamu sebagai ilmu

    Mengangkatmu menjadi guru

    Tapi apa yang telah kau bawa

    Sebuntal kekalahan yang ingin kau simpan

    Kapan mereka akan sadar

    Bahwa diam adalah jawaban

    September, 2011

    Sumber Ilustrasi: https://pixnio.com/id/objek/buku/buku-belajar-kuliah-ilmu-pengetahuan-universitas
  • Puisi Cinta: Rindu

    puisi cinta

    RINDU

    Karya: Mai Hamdati

    Malam terasa basah di paru-paruku
    Setelah gerimis tak henti mengikis
    Setiap yang di sentuhnya dari kulitku
    Dan entah sudah berapa lama
    Sampai akhirnya ia menemukanmu
    Bukan di kotamu
    Tapi di dalam kotak hitam kenangan
    Yang dulu hilang
    Saat kabut menghadang kepergianku

    Di luar, dahan-dahan tak mampu lagi 
    Menyelamatkan daun hidupnya 
    Yang  saling menjatuhkan tubuh ke tanah
    Tapi perhatikanlah, di antara daun-daun itu
    Ada satu yang tak pernah benar-benar ranggas
    Itulah aku
    Yang tersesat di ruang rindu

    Tanggamus, 2010-01-13


    Sumber ilustrasi: https://www.pexels.com/id-id/foto/1831701/

  • Puisi: Pemenang Atau Pecundang

    puisi

    PUISI INI SAYA TEMUKAN DI ANTARA FILE-FILE YANG BERSERAKAN DI SATU FOLDER BERJUDUL TULISAN, TIDAK JELAS SIAPA YANG MENULIS, DI SANA HANYA TERTERA, SANGGAR SAKTAH. DAN ENTAH, APA PESAN YANG INGIN DISAMPAIKAN, WAKTU ITU.

    Selamat membaca:

    Pemenang atau Pecundang

    Untuk para penghuni Sanggar Saktah


    Langit masih menjulang tinggi
    Saat kalian memutuskan untuk berhenti
    Di tengah padang,
    Bimbang yang menjemukan

    Lihatlah kawanan penyu itu,
    Merambat, lambat tapi kuat
    Menuju pantai yang paling berbahaya
    Untuk mengerami mimpi mereka 
    Bahkan mereka mampu bertahan 
    Hanya untuk sekedar melihat mimpi itu
    Menetas dengan sempurna
    Atau pecah karena kedinginan

    Mungkin kalian terlanjur tidak percaya pada kata-kata
    Karena dusta berasal dari mulut yang berbusa
    Maka gerakkan jari-jari tanganmu, kawan
    Pertaruhkan mimpimu
    Pada sebuah pena paling panjang
    Supaya kau tahu
    Apakah kau pemenang
    Atau hanya seorang pecundang?

    Sanggar Saktah, 05 Juli 2011

    Sumber Ilustrasi: https://www.piqsels.com/id/public-domain-photo-sgich