Kategori: sastra

  • Puisi Cinta: Menantimu

    puisi cinta









    Menantimu

    Karya: Mai Hamdati

    Haruskan aku menjadi daun yang menanti hujan
    ketika kemarau baru sampai di separuh perjalanan
    Haruskah aku menjadi pasir yang menanti desir angin 
    dipagi yang basah
    Haruskah aku menjadi gerimis yang menanti tetes terakhir
    di mata langit yang sendu
    senyatanya, aku hanya batu didasar sungai yang menantimu
    di dalam perasaan yang keruh dan rindu yang keruh


    Tanggamus, 2009
  • Puisi: Halusinasi

    puisi

    Puisi: Halusinasi

    oleh: Muhamad Munji

    Pikiranku di Israel dan Palestina

    Lidahku ramai membahas berbagai isu dunia

    Komunis, Liberal, Amerika, sampai Konspirasi Global, semua tak luput dari deru di dada

    Hatiku berkecamuk, bergelora semangat, menggebu niat kalbu, menginginkan semuanya

    Berkeyakinan dengan amat, jika semua bisa diselesaikankan segera

     

    Pikirku melayang

    Jauh menerawang

    Semua terbayang

    Bagai terhunus sebuah pedang

    Hendak menebas menerjang

    Agar segera hilang

    Agar terbebas semua orang

    Dari cengkeraman iblis laknat yang terbuang

     

    Tapi…kakiku masih terbujur kaku

    Tanganku masih menghangat dalam saku

    Rupanya belum juga kuberanjak dari tempat tidurku

    Bermalas-malasan dan masih menunggu

    Ah…kepala jauh dari kaki

    Melangkah sedikit juga belum pasti

    Tapi angan sudah terbang terlampau tinggi

    Jangan begitu…sadarkanlah aku….yang sedang berhalusinasi…

    Kebumen, 11 Mei 2021 Pukul 00.40

  • Puisi Cinta: Kenangan yang Kutitipkan Pada Lelaki Bermata Biru

    puisi cinta

    Kenangan yang Kutitipkan Pada lelaki Bermata Biru

    Oleh: Mai Hamdati

    Saat itu tak ada senja dan bulan, bahkan kelebat cahaya saat keretaku perlahan menjauh dari stasiun, di sebelah tugu kotamu itu. Jika jalan ini menuju kenangan, kenapa aku masih saja kehilangan?

    Ataukah kepergian ini adalah kehilangan yang lain, yang menghidupkan kenanganku padamu. Telah kutitipkan surat pada angin, sehingga dapat kau cumbui diriku dalam setiap tarikan udara yang kau hirup di antara bau pengap abu rokokmu dan lembaran lembaran kertas puisimu, maka kau akan tahu, betapa cemas aku, di sini, di kotaku, untuk mengambil sisa kenanganku, yang kutitipkan padamu.

    Masih di masa lalu, masih belum beranjak dari lelaki bermata biru, dan rasanya masih terlalu berharga untuk dilupakan begitu saja. Jika kau bisa melihatnya sayang, betapa misterius senyummu itu, seperti matahari sesaat sebelum senja membakar dan menenggelamkan tubuhnya, maka seperti selembar bibirmu yang  tersenyum tipis saat kita sepakat untuk berpisah.

    Kita pernah duduk bersama di tepi telaga. Menggambar pelangi di atas airnya.  Tak ada yang bicara di antara kita, seperti apa warna pelangi yang sesungguhnya. Membiarkan  langit berbisik di atas kepala kita tentang segala yang berbeda, tentang aku yang selalu bercermin di matamu, tentang kau yang tak bisa melihat apapun.

    Malam memang gelap sayang, tapi terkadang menjadi tempat yang paling menenangkan. Mungkin kau tak pernah merasakannya, karena di matamu siang dan malam sama-sama hitam, bahkan tanah yang kau pijak hanyalah segumpal bola hitam yang terus menggulirkan tubuhmu. 

    Mungkin itu yang membuatmu bisa merasakan angin lebih dari siapapun. Kau adalah satu-satunya lelaki bermata biru yang sanggup menari hanya dengan diiringi semilir angin senja. 

    Sayang, Aku rasa, Jika  malaikat di surga memang ada, maka dia telah merasuk ke dalam tubuhmu. Malaikat bermata biru yang menjadikanmu laut dan sekaligus sebuah pelabuhan untukku.

    Mungkin kau tak membutuhkan sebuah alasan seperti aku yang tak pernah memberimu jawaban atas kepergianku. Tapi asal kau tahu. Ternyata, sebuah laut tidak pernah membawaku ke mana-mana. Mataku yang bisa melihat, hanya bisa melihat matamu yang biru, hanya biru lautmu meski kau tak lagi bisa merasakan lembutnya tanganku dalam genggamanmu.

    -2012-

    Sumber Ilustrasi: https://www.pikist.com/free-photo-sswpg/id

  • Puisi Cinta: Bawalah Aku Bersamamu

    puisi cinta

    Bawalah Aku Bersamamu

    Oleh: Mai Hamdati

    Sayang, sedang apa kau di sana
    Masihkah Berjibaku dengan mimpimu yang gersang
    mengikuti gemerlap lampu-lampu kota
    penuh harapan
    sedangkan sudah lama
    kau biarkan rambut panjangmu berserakan
    di buritan hatiku yang menyimpan
    setiap kenangan
    Seandainya saja dapat kutemukan kau
    di negeri senja
    atau bahkan di sebuah rumah tua
    -tempat para pengelana singgah
    -untuk sekedar menenggak sisa mimpi
    -sebagai tanda hilangnya nasib dari kendali-

    Sayang, tiba-tiba aku teringat
    Pada sebuah sore sebelum gerimis
    saat kita sama-sama berbagi cerita
    tentang luka dari masa lalu kita
    dan diam-diam kau letakkan lelahmu di sana
    yang kemudian kuambil separuhnya
    Saat itu, kubaca setiap daun yang jatuh
    dari tangkai pohon beringin yang hampir rubuh
    di pojok hati kita yang lusuh
    mencoba mencari jawaban
    dari luka yang tiba-tiba menggores hatiku
    saat kau pergi begitu saja
    meninggalkan cintaku pada sebuah koma
    lihat: Musikalisasi Puisi: Bawalah Aku Bersamamu

    Sayang, entah sudah berapa purnama
    aku menunggumu, hanya bisa tetdiam terpaku
    Aku menggigil, melihat hujan memadamkan api di tubuh bumi. 
    Aku membeku, melihat gerimis  yang jatuh di atas daun-daun,
    memang tidak seindah embun,
    tapi cukup kuat untuk menggumpalkan kesepianku. 
    Aku bukan lagi debu kering yang bisa diterbangkan angin,
    tapi juga tidak terlalu basah untuk bisa menetap.
    Genggam aku, dan masukan ke dalam kopermu.  
    karena ku yakin  hanya aku yang mampu menenangkanmu

    Sayang, bawalah aku bersamamu
    mengais mimpi
    mungkin di antara jalanan yang berdebu
    atau degup jantung bertalu-talu yang telah
    memukuli perutmu hingga semakin membiru
    Tapi, sungguh itu lebih baik untukku
    dari pada menjadi kupu-kupu
    yang terpaksa merelakan sayapnya sendiri
    dan berpura-pura bahagia dengan sayap lain
    yang membuatku tidak akan pernah bisa terbang- 
    Sayang, dimanapun kau berada sekarang
    bisakah kau keluar sebentar
    Untuk melihat satu bintang
    Yang berdiri di langit sendirian
    dengan kerlip cahayanya yang hampir memudar
    sehingga bisa kau baca pesan singkat ini
    dan pada seperempat malam terakhir berikutnya
    aku akan menunggumu
    untuk membawaku pergi bersamamu


    Tanggamus, 2009-



    Sumber Ilustasi: https://www.flickr.com/photos/ariken/7001996122

  • Puisi Sapardi Djoko Damono: Hujan Bulan Juni

    puisi Sapardi Djoko Damono

    Hujan Bulan Juni

    Karya: Sapardi Djoko Damono

    Tak ada yang lebih tabah
    dari hujan bulan Juni
    dirahasiakannya rintik rindunya
    kepada pohon berbunga itu
    tak ada yang lebih bijak
    dari hujan bulan Juni 
    dihapusnya jejak-jejak kakinya
    yang ragu-ragu di jalan itu
    tak ada yang lebih  Arif
    dari hujan bulan Juni
    dibiarkannya yang tak terucapkan
    diserap akar pohon bunga itu. 
    1989

    Musikalisasi puisi, Hujan bulan Juni

    Sumber Ilustrasi: https://pxhere.com/id/photo/104555

  • PUISI CINTA: AKU INGIN

    puisi cinta

    AKU INGIN

    Karya: Sapardi Djoko Damono

    Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

    Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu
    Kepada api yang menjadikannya abu

    Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
    dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan
    kepada hujan yang membuatnya tiada

    Sapardi Djoko Damono, 1989





    Sumber Tulisan: Hujan Bulan Juni, Gramedia Pustaka Utama
    Sumber Ilustrasi: https://www.pikist.com/search/id?q=cinta










  • AKU TAK SANGGUP MELEPASKANMU

    puisi cinta


    Aku Tak Sanggup Melepaskanmu

    Karya: Mai Hamdati

    Jika benar sebuah kepergian adalah jalan menuju kenangan
    dari setiap yang ditinggalkan
    Maka kepergianku menemukan jalan buntu
    Karena telah tumbuh ilalang
    Entah sejak kapan 
    Sehingga tak dapat lagi kulihat apapun di depanku
    Selain tatapan matamu, yang bersembunyi di situ
    Sedang menikmati warna senja di pipiku
    Dan masa lalu yang memerah di mataku
    Dan sekarang sendirilah aku di jalan buntu
    Di antara deretan tanda koma dalam puisimu
    Yang tak bisa kuselesaikan
    Sampai pada sebuah titik,
    Apa lagi catatan kaki
    Yang menerangkan
    Mau kemana senja membawa kisah kita
    Mungkin aku tak pantas mengambil rindu di saku bajumu
    Tapi sungguh, Aku pun tak sanggup melepaskanmu
    Pergi ke masa lalu.

    Tanggamus, 2009

    Sumber Ilustrasi: https://www.flickr.com/photos/ariken/7001996122
  • PUISI CINTA: KENANGAN YANG KUTITIPKAN PADAMU

    PUISI CINTA


    Kenangan yang Kutitipkan Padamu

    Karya: Mai Hamdati

    Tak ada senja dan  bulan
    bahkan kelebat cahaya
    saat keretaku perlahan menjauh dari stasiun
    di sebelah tugu kotamu itu

    Jika jalan pulang ini menuju kenangan
    kenapa aku masih saja kehilangan?
    Ataukah kepulangan ini adalah kehilangan yang lain
    Yang menghidupkan kenanganku padamu


    Telah kutitipkan surat pada angin
    Sehingga dapat kau cumbui diriku
    Dalam setiap tarikan udara yang kau hirup
    Di antara bau pengap abu rokokmu
    Maka kau akan tahu
    Betapa cemas aku menantimu
    Di sini, di kotaku
    Untuk mengambil sisa kenanganku
    yang kutitipkan padamu….


    Tanggamus, 2009

    Sumber Ilustrasi:https://www.flickr.com/photos/stwn/14298617557

  • PUISI CINTA: RINDU

    puisi cinta

    RINDU

    Karya: Mai Hamdati

    Malam terasa basah di paru-paruku
    Setelah gerimis tak henti mengikis
    Setiap yang di sentuhnya dari kulitku
    Dan entah sudah berapa lama
    Sampai akhirnya ia menemukanmu
    Bukan di kotamu
    Tapi di dalam kotak hitam kenangan
    Yang dulu hilang
    Saat kabut menghadang kepergianku

    Di luar, dahan-dahan tak mampu lagi 
    Menyelamatkan daun hidupnya 
    Yang  saling menjatuhkan tubuh ke tanah
    Tapi perhatikanlah, di antara daun-daun itu
    Ada satu yang tak pernah benar-benar ranggas
    Itulah aku
    Yang tersesat di ruang rindu

    Tanggamus, 2010-01-13

    Dengarkan juga 

    musikalisasi Puisi: Rindu


    Sumber ilustrasi: https://www.pexels.com/id-id/foto/1831701/

  • PUISI: MIMPI SEBATANG BAMBU 2

    puisi

    Mimpi Sebatang Bambu

    Bulan yang temaram
    Mampukah aku memelukmu
    Sebatang bambu hitam, kelam,
    Hampir tak kelihatan,
    Memandang jauh ke angkasa
    Ia masih saja bertanya
    Masih saja curiga
    Apakah jalan ke tempatmu terjal
    Lurus dan halus tapi semakin mengecil di kejauhan
    Akankah berundak hingga sampai ke puncak
    Ataukah luas dan bergelombang seperti samudra

    Sebatang bambu semakin diam
    Sedikit bergoyang diantara angin yang lalu lalang
    Pelan, tapi jelas sekali membayang
    Bulan, kita begitu dekat
    Lebih dari berhadapan
    Lebih dari bersentuhan
    Kau menggodaku
    Aku memasukimu

    Tiba-tiba aku terbangun
    Inilah mimpi yang sesungguhnya
    Mimpi sebatang bambu
    Sebelum aku menggerakkan penaku.

    Sanggar Saktah, 03 Juli 2011




    Sumber Ilustrasi: https://www.pikist.com/free-photo-sxolh/id