Menantimu
Karya: Mai Hamdati
dipagi yang basah
di mata langit yang sendu
di dalam perasaan yang keruh dan rindu yang keruh
oleh: Muhamad Munji
Pikiranku di Israel dan Palestina
Lidahku ramai membahas berbagai isu dunia
Komunis, Liberal, Amerika, sampai Konspirasi Global, semua tak luput dari deru di dada
Hatiku berkecamuk, bergelora semangat, menggebu niat kalbu, menginginkan semuanya
Berkeyakinan dengan amat, jika semua bisa diselesaikankan segera
Pikirku melayang
Jauh menerawang
Semua terbayang
Bagai terhunus sebuah pedang
Hendak menebas menerjang
Agar segera hilang
Agar terbebas semua orang
Dari cengkeraman iblis laknat yang terbuang
Tapi…kakiku masih terbujur kaku
Tanganku masih menghangat dalam saku
Rupanya belum juga kuberanjak dari tempat tidurku
Bermalas-malasan dan masih menunggu
Ah…kepala jauh dari kaki
Melangkah sedikit juga belum pasti
Tapi angan sudah terbang terlampau tinggi
Jangan begitu…sadarkanlah aku….yang sedang berhalusinasi…
Kebumen, 11 Mei 2021 Pukul 00.40
Saat itu tak ada senja dan bulan, bahkan kelebat cahaya saat keretaku perlahan menjauh dari stasiun, di sebelah tugu kotamu itu. Jika jalan ini menuju kenangan, kenapa aku masih saja kehilangan?
Ataukah kepergian ini adalah kehilangan yang lain, yang menghidupkan kenanganku padamu. Telah kutitipkan surat pada angin, sehingga dapat kau cumbui diriku dalam setiap tarikan udara yang kau hirup di antara bau pengap abu rokokmu dan lembaran lembaran kertas puisimu, maka kau akan tahu, betapa cemas aku, di sini, di kotaku, untuk mengambil sisa kenanganku, yang kutitipkan padamu.
Masih di masa lalu, masih belum beranjak dari lelaki bermata biru, dan rasanya masih terlalu berharga untuk dilupakan begitu saja. Jika kau bisa melihatnya sayang, betapa misterius senyummu itu, seperti matahari sesaat sebelum senja membakar dan menenggelamkan tubuhnya, maka seperti selembar bibirmu yang tersenyum tipis saat kita sepakat untuk berpisah.
Kita pernah duduk bersama di tepi telaga. Menggambar pelangi di atas airnya. Tak ada yang bicara di antara kita, seperti apa warna pelangi yang sesungguhnya. Membiarkan langit berbisik di atas kepala kita tentang segala yang berbeda, tentang aku yang selalu bercermin di matamu, tentang kau yang tak bisa melihat apapun.
Malam memang gelap sayang, tapi terkadang menjadi tempat yang paling menenangkan. Mungkin kau tak pernah merasakannya, karena di matamu siang dan malam sama-sama hitam, bahkan tanah yang kau pijak hanyalah segumpal bola hitam yang terus menggulirkan tubuhmu.
Mungkin itu yang membuatmu bisa merasakan angin lebih dari siapapun. Kau adalah satu-satunya lelaki bermata biru yang sanggup menari hanya dengan diiringi semilir angin senja.
Sayang, Aku rasa, Jika malaikat di surga memang ada, maka dia telah merasuk ke dalam tubuhmu. Malaikat bermata biru yang menjadikanmu laut dan sekaligus sebuah pelabuhan untukku.
Mungkin kau tak membutuhkan sebuah alasan seperti aku yang tak pernah memberimu jawaban atas kepergianku. Tapi asal kau tahu. Ternyata, sebuah laut tidak pernah membawaku ke mana-mana. Mataku yang bisa melihat, hanya bisa melihat matamu yang biru, hanya biru lautmu meski kau tak lagi bisa merasakan lembutnya tanganku dalam genggamanmu.
-2012-
Sumber Ilustrasi: https://www.pikist.com/free-photo-sswpg/id
Tanggamus, 2009-
Sumber Ilustasi: https://www.flickr.com/photos/ariken/7001996122
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu
Kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan
kepada hujan yang membuatnya tiada
Karya: Mai Hamdati
Karya: Mai Hamdati
Tak ada senja dan bulan
bahkan kelebat cahaya
saat keretaku perlahan menjauh dari stasiun
di sebelah tugu kotamu itu
Jika jalan pulang ini menuju kenangan
kenapa aku masih saja kehilangan?
Ataukah kepulangan ini adalah kehilangan yang lain
Yang menghidupkan kenanganku padamu
Telah kutitipkan surat pada angin
Sehingga dapat kau cumbui diriku
Dalam setiap tarikan udara yang kau hirup
Di antara bau pengap abu rokokmu
Maka kau akan tahu
Betapa cemas aku menantimu
Di sini, di kotaku
Untuk mengambil sisa kenanganku
yang kutitipkan padamu….
Sumber Ilustrasi:https://www.flickr.com/photos/stwn/14298617557
Malam terasa basah di paru-paruku
Setelah gerimis tak henti mengikis
Setiap yang di sentuhnya dari kulitku
Dan entah sudah berapa lama
Sampai akhirnya ia menemukanmu
Bukan di kotamu
Tapi di dalam kotak hitam kenangan
Yang dulu hilang
Saat kabut menghadang kepergianku
Di luar, dahan-dahan tak mampu lagi
Menyelamatkan daun hidupnya
Yang saling menjatuhkan tubuh ke tanah
Tapi perhatikanlah, di antara daun-daun itu
Ada satu yang tak pernah benar-benar ranggas
Itulah aku
Yang tersesat di ruang rindu
Tanggamus, 2010-01-13
Dengarkan juga
Sumber ilustrasi: https://www.pexels.com/id-id/foto/1831701/
Bulan yang temaram
Mampukah aku memelukmu
Sebatang bambu hitam, kelam,
Hampir tak kelihatan,
Memandang jauh ke angkasa
Ia masih saja bertanya
Masih saja curiga
Apakah jalan ke tempatmu terjal
Lurus dan halus tapi semakin mengecil di kejauhan
Akankah berundak hingga sampai ke puncak
Ataukah luas dan bergelombang seperti samudra
Sebatang bambu semakin diam
Sedikit bergoyang diantara angin yang lalu lalang
Pelan, tapi jelas sekali membayang
Bulan, kita begitu dekat
Lebih dari berhadapan
Lebih dari bersentuhan
Kau menggodaku
Aku memasukimu
Tiba-tiba aku terbangun
Inilah mimpi yang sesungguhnya
Mimpi sebatang bambu
Sebelum aku menggerakkan penaku.
Sanggar Saktah, 03 Juli 2011
Sumber Ilustrasi: https://www.pikist.com/free-photo-sxolh/id