Karya: Chotibul Umam
Tumbuh subur racun asmara
Dimabuk cinta tiada dapat kau berkata
Hanya rasa, merambah seluruh jiwa
Kesadaran punah, mati rasa akalnya
Tumbuh subur racun asmara
Dimabuk cinta tiada dapat kau berkata
Hanya rasa, merambah seluruh jiwa
Kesadaran punah, mati rasa akalnya
Senja Cinta di padang sahara
Sejuta cinta, mengembang bagai sekuntum bunga
Paras cantik indah wajahnya
Sejoli berpesta dengan hati bergelora
Racun diminum bersua
Bahagia sesaat, sesal selamanya
Tanggamus, April 2021
Sumber gambar: https://pxhere.com/id/photo/1587027
Di negeriku, negeri sejuta mafia
Ada seorang kepala sekolah pulang sekolah
Kenyataannya ia jatuh sakit tetapi tidak sakit, katanya
Sang istri bertanya, sayangku engkau kenapa
“Bos” jawabnya
Bos kenapa, bos marah, bos yang mana, pengawas, kepala upt, atau kepala dinas
Bukan bos,.
Bos yang mana,
He he he, dana bos,
Kenapa ia begitu menakutkan
Lihatlah wahai sayangku, saku celanaku berlubang,
Yang satu, sepatuku entah kemana, hilang.
Wahai ayah, kau yang disana
kemarilah lihatlah dari dekat
Jangan kau dijakarta saja, datanglah ke pengulu desa,
Di pinggir sungai yang keruh airnya,
Di pinggir jalan, yang basah tanahnya
Di atas genteng sekolah yang bocor atapnya
Sumber gambar: https://pxhere.com/id/photo/1587027
Di negeriku, negeri sejuta mafia
Ada seorang kepala sekolah pulang sekolah
Kenyataannya ia jatuh sakit tetapi tidak sakit, katanya
Sang istri bertanya, sayangku engkau kenapa
“Bos” jawabnya
Bos kenapa, bos marah, bos yang mana, pengawas, kepala upt, atau kepala dinas
Bukan bos,.
Bos yang mana,
He he he, dana bos,
Kenapa ia begitu menakutkan
Lihatlah wahai sayangku, saku celanaku berlubang,
Yang satu, sepatuku entah kemana, hilang.
Wahai ayah, kau yang disana
kemarilah lihatlah dari dekat
Jangan kau dijakarta saja, datanglah ke pengulu desa,
Di pinggir sungai yang keruh airnya,
Di pinggir jalan, yang basah tanahnya
Di atas genteng sekolah yang bocor atapnya
Di negeriku, negeri sejuta mafia
Guru bingung dengan ulah muridnya
Murid bingung mengerjakan tugas dari gurunya
Guru dan murid sama-sama bingung, lupa shalat apa yang ada qunutnya
Sudah berlalu zaman itu, menjadi guru berwibawa bak ratu
Sudah berlalu zaman itu, menjadi murid yang menurut dan malu-malu
Guru kencing berdiri, murid kecing berlari
Guru iri, ingin juga kencing sambil lari
Orang tua bingung harus mengajar anaknya sendiri
Pengamat bingung, ngomong saja sebatas teori
Pemerintah bingung dikritik, dihujat, dan dimaki sana sini
Semua bingung, karena pendidikan mengajarkan kebingungan itu sendiri
Semua bingung, kecuali bagi yang tidak linglung
Karya: Chotibul Umam
Di negeriku, Negeri sejuta mafia
Sejuta mulut, berteriak bersama-sama
Meneriakkan kebenaran, kata mereka
Kebenaran mereka teriakan,
Teriakan mereka memekakan telinga
Orang-orang tak berdosa, dipaksa membuka telinga
Sementara mereka berteriak sambil menutup telinga
Mereka sang pejuang kebenaran
Haus akan ketenaran
Tanggamus, April 2021
Sumber gambar: https://pxhere.com/id/photo/1439043
Di negeriku, negeri sejuta mafia
Negeriku, indah subur dan makmur
Namun rakyatnya, banyak yang menganggur
Entahlah,
Katanya menganggur, tetapi setiap hari pulangnya habis luhur
Katanya dia seorang penganggur,
Tetapi ditanggannya selalu tergantung pena bertinta lumpur
Lumpur mereka keruk menjadi anggur
Anggur mereka tengguk sebagai pengantar tidur
Di negeriku, negeri sejuta mafia
Terkisah cerita dari mulut ke telinga tetang tukang traktor
Tukang traktor Yang suka ngontrak dan gemar menjadi aktor
Bukan kontraktor, dia hanya seorang pelancong
Mencari kerja, pada
Tak mau bekerja, selain hanya menghitung amplop-amplop diatas meja
Mereka bersekongkol, Membubuhkan tanda tangan, amplop-amploppun menjadi kosong
Mereka berbau mulut dan rajin mencabut bulu ketiak
Bulu ketiak mereka dapat, lalu didekatkannya ke lubang hidung yang menganga
Hobinya mengambil sesuatu dari lahan yang basah
Tenggorokannya basah bukan karena air
Melainkan karena suka membual dengan nafasnya yang menghembuskan uap kebohongan
Lihatlah, jalanan yang selalu saja berlubang walau telah ditambal berjuta kali,
Atau lihatlah gedung-gedung pemerintahan dan gedung-gedung kosong di pelosok desa yang
Dindingnya retak, walau dibangun dengan hati yang berpesta pora
Lantainya berjubel uang berserak hingga menyumpal di laci dan dibawah taplak
Lantainya licin tak bisa diinjak, padahal baru kemarin diresmikan atau esok
Name:
E-mail:
Message:
RAKATA
Ragam kata kita. Menyajikan beragam informasi dan pengetahuan yang bermanfaat di seputar kita.